Sabtu, 14 Juni 2014

Bayi yang Lahir Caesar Berisiko Tinggi Menderita Asma


Bayi yang lahir secara caesar lebih rentan mengalami asma dan alergi. Ini disebabkan si bayi kehilangan bug (bakteri) pelindung yang bisa membantunya mencegah dari sejumlah gangguan di masa kecil dan kehidupan selanjutnya.

Demikian peringatan dari sejumlah ilmuwan yang menemukan perbedaan yang signifikan dalam bakteri usus yang ditemukan pada bayi yang lahir melalui operasi caesar dan alami.

Jurnal Canadian Medical Association juga menyebutkan bayi yang diberi susu formula, bukan ASI, juga tidak memiliki bakteri yang mungkin bisa melindunginya.

Para peneliti mengatakan temuan itu bakal meningkatkan keprihatinan tentang efek jangka panjang pada bayi dengan melonjaknya angka kelahiran melalui caesar.

Kelahiran caesar dalam kondisi darurat memang bisa menyelamatkan jiwa. Namun, operasi yang direncanakan diakui lebih berisiko bagi ibu karena bisa mengembangkan komplikasi dan menghabiskan waktu dua kali lebih lama di rumah sakit dibanding ibu yang melahirkan secara alami.

Penelitian terbaru menambahkan keprihatinan soal bahaya yang dihadapi bayi yang lahir secara caesar. Pada penelitian sebelumnya disebutkan bayi yang lahir melalui operasi berada pada risiko dua kali libat mengalami obesitas di masa kanak-kanak, dan risiko terkena diabetes 1 dan asma juga lebih tinggi.

Alasan pastinya belum diketahui, tapi kemungkinan bayi yang lahir dengan operasi kehilangan perubahan fisiologis yang terjadi selama kelahiran termasuk paparan bug yang diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh saat dewasa.

Studi ini melihat data dari 24 bayi sehat, sebagai bagian dari penelitian yang lebih besar yang dilakukan Canadian Healthy Infant Longitudinal Development. Penelitian ini mewakili bayi Kanada dengan 25 persen yang dilahirkan secara caesar dan 42 persen mendapatkan ASI Ekslusif selama 4 bulan.

Para peneliti menggunakan teknologi sekuensing DNA untuk menyelidiki komposisi bakteri usus pada bayi. Ini merupakan suatu teknik yang memungkinkan deteksi semua bug yang ada di tubuh.

Para peneliti menemukan, bayi yang lahir melalui operasi caesar kekurangan kelompok bakteri tertentu yang ditemukan pada bayi yang lahir secara alami, bahkan jika bayi itu diberikan ASI.

Bayi yang diberikan susu formula dibandingkan dengan bayi ASI juga memperlihatkan perbedaan yang signifikan dalam bakteri usus.

Penulis penelitian Dr Anita Kozyrskyj, dari University of Alberta, menjelaskan, temuan ini sangat tepat untuk menegaskan bahwa mikrobiota usus sebagai organ super dengan peran yang beragam dalam kesehatan dan penyakit.

"Bayi yang lahir melalui persalinan caesar berada pada peningkatan risiko asma, obesitas, dan diabetes 1. Sedangkan menyusui memberikan perlindungan yang bervariasi terhadap gangguan ini dan lainnya," ujarnya seperti dikutip Dailymail, Selasa (12/2/2013).

Peneliti Meghan Azad, dari University of Alberta, temuan ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran orangtua dan dokter dalam membuat keputusan caesar serta mendukung menyusui.

"Ini bisa mempengaruhi microbiome usus bayi mereka dan ini bisa memiliki efek seumur hidup bagi kesehatan anak," jelasnya.

Para ahli percaya bahwa bakteri usus berperan dalam merangang sistem kekebalan tubuh. Alasannya, bayi yang lahir melalui operasi caesar tidak terkena bakter menguntungkan dalam jalan lahir, dan mungkin memakan waktu lebih dalam untuk mengumpulkan bug yang baik, yang menunda paparan mikroba yang memulai sistem kekebalan tubuh.

Dr Rob Knight, seorang ilmuwan di University of Colorado, Boulder, Colorado, Amerika Serikat, menjelaskan risiko caesar dan minum susu formula.

"Anak-anak yang lahir dengan persalinan caesar atau minum susu formula mungkin meningkatkan risiko berbagai kondisi di kemudian hari; kedua proses mengubah mikrobiota usus pada bayi yang sehat, yang dapat menjadi mekanisme untuk peningkatan risiko"

sUMBER: LIPUTAN6.COM

MENYUSUI DENGAN RESIKO HIPOGLIKEMI


Menyusui Bayi dengan Risiko Hipoglikemia


Bayi cukup bulan yang sehat telah dipersiapkan untuk menjalani transisi nutrisi di dalam kandungan menjadi nutrisi di luar kandungan, tanpa memerlukan pemantauan metabolik ataupun intervensi proses menyusui yang alami. Mekanisme homeostatik mencukupi energi yang adekuat untuk otak dan organ lainnya, bahkan jika pemberian minum tertunda.
Istilah hipoglikemia merujuk pada kadar glukosa yang rendah. Hipoglikemia sesaat pada awal kehidupan neonatus cukup bulan merupakan hal yang wajar, sering didapatkan dan terjadi pada hampir seluruh mamalia. Hal ini akan normal dengan sendirinya dan bukanlah sesuatu yang patologis karena kadar glukosa darah meningkat secara spontan dalam 2-3 jam. Dalam situasi dimana kadar glukosa darah yang rendah karena belum mendapat asupan makanan (ASI belum ada) terjadi respon ketogenik yaitu metabolisme dari asam lemak menjadi badan keton. Otak bayi dengan kemampuannya akan memanfaatkan badan keton untuk menghemat glukosa bagi otak dan melindungi fungsi neurologis bayi.
Bayi yang mendapat ASI cenderung mempunyai kadar glukosa yang rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula, tetapi tidak berkembang menjadi hipoglikemia simptomatik. Pemberian minum awal dengan ASI yang mengandung alanin, asam lemak rantai panjang dan laktosa, akan meningkatkan proses glukoneogenesis. Bayi cukup bulan yang minum ASI mempunyai kadar glukosa yang lebih rendah tetapi mempunyai kadar badan keton yang lebih tinggi.
Definisi hipoglikemia hingga saat ini masih kontroversial, karena kurangnya korelasi yang bermakna antara kadar glukosa plasma, gejala klinis, dan gejala sisa jangka panjang. Hipoglikemia ditandai oleh nilai yang unik pada masing-masing individu neonatus dan bervariasi sesuai dengan kematangan fisiologis dan pengaruh patologisnya. Hipoglikemia  pada bayi terjadi bila kadar glukosa darah < 45mg/dL.
Bayi dengan risiko hipoglikemia
Pada bayi baru lahir yang mempunyai risiko hipoglikemia, kadar glukosa darahnya dipantau secara rutin, terlepas dari pemberian, macam dan cara minum apapun yang didapatkan. Terdapat 3 kategori bayi yang berisiko hipoglikemia:
  1. Pemakaian glukosa yang berlebihan, termasuk kondisi hiperinsulinemia
  2. Produksi dan cadangan glukosa yang tidak memadai
  3. Peningkatan pemakaian glukosa dan penurunan produksi
Bayi yang mempunyai risiko hipoglikemia:
  1. Bayi dari ibu dengan diabetes. Ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol memiliki kadar glukosa darah yang tinggi yang bisa melewati plasenta sehingga merangsang pembentukan insulin pada neonatus. Saat lahir, kadar glukosa darah tiba-tiba turun karena pasokan dari plasenta berhenti, padahal kadar insulin masih tinggi, sehingga terjadi hipoglikemia. Pencegahannya adalah dengan mengontrol kadar glukosa darah pada ibu hamil.
  2. Bayi besar untuk masa kehamilan (BMK). Bayi BMK biasanya lahir dari ibu dengan toleransi glukosa yang abnormal.
  3. Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK). Selama dalam kandungan, bayi sudah mengalami kekurangan gizi, sehingga tidak sempat membuat cadangan glikogen, dan kadang persediaan yang ada sudah terpakai. Bayi KMK mempunyai kecepatan metabolisme lebih besar sehingga menggunakan glukosa lebih banyak daripada bayi yang berat lahirnya sesuai untuk masa kehamilan (SMK), dengan berat badan yang sama. Meskipun bayi KMK bugar, bayi mungkin tampak lapar dan memerlukan lebih banyak perhatian. Bayi KMK perlu diberi minum setiap 2 jam dan kadang masih hipoglikemia, sehingga memerlukan pemberian suplementasi dan kadang memerlukan cairan intravena sambil menunggu ASI ibunya cukup.
  4. Bayi kurang bulan. Deposit glukosa berupa glikogen biasanya baru terbentuk pada trimester ke-3 kehamilan, sehingga bila bayi lahir terlalu awal, persediaan glikogen ini terlalu sedikit dan akan lebih cepat habis terpakai.
  5. Bayi lebih bulan. Fungsi plasenta pada bayi lebih bulan sudah mulai berkurang. Asupan glukosa dari plasenta berkurang, sehingga janin menggunakan cadangan glikogennya. Setelah bayi lahir, glikogen tinggal sedikit, sehingga bayi mudah mengalami hipoglikemia.
  6. Pasca asfiksia. Pada asfiksia, akan terjadi metabolisme anaerob yang banyak sekali memakai persediaan glukosa. Pada metabolisme anaerob, 1 gram glukosa hanya menghasilkan 2 ATP, sedang pada keadaan normal 1 gram glukosa bisa menghasilkan 38 ATP.
  7. Polisitemia. Bayi dengan polisitemia mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya hipoglikemia dan hipokalsemia, karena pada polisitemia terjadi perlambatan aliran darah.
  8. Bayi yang dipuasakan, termasuk juga pemberian minum pertama yang terlambat. Bayi dapat mengalami hipoglikemia karena kadar glukosa darah tidak mencukupi
  9. Bayi yang mengalami stres selama kehamilan atau persalinan, misalnya ibu hamil dengan hipertensi. Setelah kelahiran, bayi mempunyai kecepatan metabolisme yang tinggi dan
    memerlukan energi yang lebih besar dibandingkan bayi lain.
  10. Bayi sakit. Bayi kembar identik yang terjadi twin to twin tranfusion, hipotermia, distress pernapasan, tersangka sepsis, eritroblastosis fetalis, sindrom Beckwith-Wiedermann,
    mikrosefalus atau defek pada garis tengah tubuh, abnormalitas endokrin atau inborn error of metabolism dan bayi stres lainnya, mempunyai risiko mengalami hipoglikemia.
  11. Bayi yang lahir dari ibu yang bermasalah. Ibu yang mendapatkan pengobatan (terbutalin, propanolol, hipoglikemia oral), ibu perokok, ibu yang mendapat glukosa intra vena saat persalinan, dapat meningkatkan risiko hipoglikemia pada bayinya.
Manifestasi klinis hipoglikemia
Manifestasi klinis hipoglikemia pada bayi cukup bulan bisa samar dan non spesifik, muncul pada neonatus bersama dengan berbagai masalah neonatus lainnya. Pemeriksaan fisis dan observasi keadaan umum bayi harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Untuk menunjukkan bahwa gejala yang timbul berhubungan dengan hipoglikemia, diperlukan hal-hal berikut:
  1. Tanda klinik harus didapatkan
  2. Kadar glukosa darah rendah, diukur secara akurat
  3. Tanda klinik menghilang pada saat kadar glukosa darah normal
Pemberian ASI secara dini dan eksklusif dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan metabolik bayi baru lahir cukup bulan yang sehat. Bayi cukup bulan yang sehat tidak akan menjadi hipoglikemia yang simptomatik karena pemberian minum yang kurang.
Skrining glukosa darah bayi baru lahir
Skrining hipoglikemia mengenai kapan dilakukannya dan berapa lama pemantauannya, belum disepakati secara umum. Strip glukosa untuk skrining tidak mahal, praktis, dan hasilnya cepat. Jika didapatkan hipoglikemia harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan glukosa darah di laboratorium, karena hasil yang diperoleh sering berbeda sekitar 15% dari hasil laboratorium, atau tidak sesuai dengan varian yang signifikan dari kadar glukosa yang sesungguhnya.
Beberapa pedoman singkat skrining glukosa pada bayi baru lahir:
  1. Pemantauan glukosa darah rutin bayi baru lahir cukup bulanyang asimtomatik tidak perlu dan mungkin merugikan.
  2. Skrining glukosa darah harus dilakukan pada bayi dengan risiko hipoglikemia untuk mengetahui adanya hipoglikemia ataupun bayi yang menunjukkan manifestasi klinis hipoglikemia, dengan frekuensi dan lama pemantauan tergantung dari kondisi bayi masing-masing.
  3. Pemantauan dimulai dalam 30-60 menit pertama bayi dengan dugaan hiperinsulinisme dan tidak lebih dari umur 2 jam pada bayi dengan risiko hipoglikemia kategori lainnya.
  4. Pemantauan sebaiknya dilanjutkan setiap 3 jam sampai kadar glukosa darah sebelum minum mencapai normal. Kemudian lanjutkan tiap 12 jam.
  5. Skrining glukosa dihentikan setelah 2 kali didapatkan kadar glukosa normal atau dengan pemberian minum saja, didapatkan 2 kali pemeriksaan kadar glukosa normal.
  6. Konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa darah di laboratorium harus dilakukan jika hasil skrining glukosa darah abnormal.
Tata laksana umum
Data yang ada menunjukkan bahwa pemberian ASI yang tidak adekuat meningkatkan risiko hipoglikemia, bahkan pada bayi yang sudah pulang ke rumah. Tata laksana pemberian ASI yang tepat sangat penting bagi perkembangan bayi.
Tata laksana umum pada bayi yang mempunyai risiko:
  1. Pemberian ASI sedini mungkin dalam 30-60 menit kemudian
    diteruskan sesuai keinginan bayi.
    • Pemberian asupan enteral sedini mungkin — ungkin merupakan tindakan pencegahan tunggal yang paling penting. Secara khusus disebutkan bahwa pemberian ASI sedini mungkin, merupakan hal yang terpenting untuk pencegahan bayi dengan risiko dan terapi hipoglikemia. Mengenali bahwa bayi menangis merupakan tanda yang terlambat jika bayi lapar. Bayi baru lahir akan mendapatkan kolostrum yang berisi protein, lemak, dan karbohidrat yang akan membuat glukosa darah stabil. Pemberian kolostrum tidak boleh dihentikan hanya karena bayi masuk dalam kriteria yang harus dipantau kadar glukosa darahnya.
    • Jika memungkinkan berikan ASI dengan bayi menyusu langsung atau melalui pipa orogastrik. Bayi yang mempunyai risiko hipoglikemia tetapi belum memungkinkan menyusu dan belum bisa diberi ASI melalui pipa orogastrik karena adanya darah yang tertelan, lakukan pembilasan lambung dan kemudian berikan ASI melalui pipa orogastrik. Jika tidak berhasil, segera mulai pemberian glukosa intra vena.
  2. Suplementasi rutin pada bayi cukup bulan yang sehat dengan air, air gula atau susu formula tidak diperlukan.
    Hal ini dapat mengganggu pemberian ASI dan mekanisme kompensasi metabolik yang normal. Jika bayi tidak dapat menyusu langsung, berikan ASI dengan cara alternatif lainnya; dengan sendok, gelas, atau pipa orogastrik. Jika bayi tidak mampu menghisap, tidak perlu dipaksakan pemberian minum melalui mulut, untuk mencegah aspirasi. Pemilihan suplemen tergantung dari ketersediaan ASI perah ibu. Kolostrum perah
    adalah pilihan utama. ASI akan meningkatkan glukoneogenesis dan keseimbangan energi. Jika tidak tersedia, pilihan berikutnya adalah donor ASI yang sudah di pasteurisasi. Jika pilihan kedua tidak tersedia, terpaksa diberikan susu formula dengan mempertimbangkan riwayat keluarga mengenai toleransi susu. Jika didapatkan alergi susu sapi, pilihannya adalah susu formula khusus (susu formula dengan protein dihidrolisis sempurna). Air gula akan meningkatkan sekresi insulin dan menunda mulainya glukoneogenesis yang alami dan proses homeostasis ketogenik. Jika air gula diberikan pada bayi, kadar glukosa akan berfluktuasi dan akan muncul masalah hipoglikemia rebound.
  3. Memfasilitasi kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi untuk merangsang pembentukan ASI. Cara ini akan mempertahankan suhu tubuh normal, menurunkan
    pengeluaran energi, dan mempertahankan kadar glukosa darah normal, sementara hal tersebut akan menstimulasi produksi ASI dan pengisapan. Dengan melekatkan bayi ke
    ibunya secara sering dapat mencegah suplementasi pada banyak kasus.
  4. Pemberian minum yang sering. Berikan minum 10-12 kali dalam 24 jam pada beberapa hari pertama sesudah lahir. Pemberian ASI yang sering, meskipun sedikit-sedikit, tetapi
    dengan protein tinggi dan kalori tinggi dari kolostrum akan lebih baik bila dibandingkan dengan pemberian susu formula atau air gula.
Tata laksana bayi dengan hipoglikemia
Bayi dengan risiko hipoglikemia, harus dipantau kadar glukosa darahnya. Glukosa yang diperlukan mungkin belum cukup hanya dengan pemberian kolostrum saja pada umur beberapa hari, tetapi tidak ada bukti klinik yang menyebutkan bahwa bayi dengan hipoglikemia asimtomatik mendapatkan keuntungan dari pemberian glukosa intra vena yang diberikan.
Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI perah dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum. Anjurkan ibu untuk menyusui jika kondisi bayi bayi baru lahir sudah memungkinkan.
Tata laksana pemberian ASI pada bayi hipoglikemia:
a. Asimtomatik (tanpa manifestasi klinis)
  1. Pemberian ASI sedini mungkin dan sering akan menstabilkan kadar glukosa darah. Teruskan menyusui bayi (kira-kira setiap 1-2 jam) atau beri 3-10 ml ASI perah tiap kg berat badan bayi, atau berikan suplementasi (ASI donor atau susu formula)
  2. Periksa ulang kadar glukosa darah sebelum pemberian minum berikutnya sampai kadarnya normal dan stabil
  3. Jika bayi tidak bisa menghisap atau tidak bisa mentoleransi asupannya, hindari pemaksaan pemberian minum, dan mulailah pemberian glukosa intra vena. Pada beberapa bayi yang tidak normal, diperlukan pemeriksaan yang seksama dan lakukan evaluasi untuk mendapatkan terapi yang intensif
  4. Jika kadar glukosa tetap rendah meskipun sudah diberi minum, mulailah terapi glukosa intra vena dan sesuaikan dengan kadar glukosa darah
  5. ASI diteruskan selama terapi glukosa intra vena. Turunkan jumlah dan konsentrasi glukosa intra vena sesuai dengan kadar glukosa darah
  6. Catat manifestasi klinis, pemeriksaan fisis, kadar skrining glukosa darah, konfirmasi laboratorium, terapi dan perubahan kondisi klinik bayi (misalnya respon dari terapi yang diberikan).
b. Simtomatik dengan manifestasi klinis atau kadar glukosa plasma < 20-25 mg/dL atau < 1,1 – 1,4 mmol/L.

  1. Berikan glukosa 200 mg tiap kilogram berat badan atau 2 mL tiap kilogram berat badan cairan dekstrosa 10%. Lanjutkan terus pemberian glukosa 10% intra vena dengan kecepatan (glucose infusion rate atau GIR) 6-8 mg tiap kilogram berat badan tiap menit
  2. Koreksi hipoglikemia yang ekstrim atau simtomatik, tidak boleh diberikan melalui oral atau pipa orogastrik.
  3. Pertahankan kadar glukosa bayi yang simtomatik pada >45 mg/dL atau >2.5 mmol/L
  4. Sesuaikan pemberian glukosa intravena dengan kadar glukosa darah yang didapat
  5. Dukung pemberian ASI sesering mungkin setelah manifestasi hipoglikemia menghilang
  6. Pantau kadar glukosa darah sebelum pemberian minum dan saat penurunan pemberian glukosa intra vena secara bertahap (weaning), sampai kadar glukosa darah stabil pada saat tidak mendapat cairan glukosa intra vena.Kadang diperlukan waktu 24-48 jam untuk mencegah hipoglikemia berulang.
  7. Lakukan pencatatan manifasi klinis, pemeriksaan fisis, kadar skrining glukosa darah, konfirmasi laboratorium, terapi dan perubahan kondisi klinik (misal respon dari terapi yang diberikan).
Dukungan pada ibu
Mempunyai bayi yang diperkirakan akan lahir normal dan sehat, tetapi ternyata kemudian berkembang mengalami hipoglikemia sering  mengganggu kepercayaan pemberian ASI. Ibu sebaiknya diyakinkan bahwa tak ada masalah dengan air susunya, dan bahwa pemberian suplementasi hanya sementara saja. Perah ASI dengan tangan ataupun pompa tertentu yang dianjurkan. Memberikan minum paling tidak 8 kali dalam 24 jam sampai bayi bisa menyusu dan menghisap dengan baik, akan membantu mempertahankan produksi ASI. Sangat penting untuk sesegera mungkin menstimulasi produksi ASI dengan melekatkan bayi ke dada ibu. Kontak kulit-ke-kulit yang dikerjakan meskipun bayi masih menggunakan akses vena, akan sangat berguna dan akan menurunkan trauma karena intervensi. Kontak kulit-ke-kulit akan memberikan termoregulasi fisiologis, yang akan berkontribusi dalam homeostasis metabolic. Sangat penting untuk melakukan edukasi kepada ibu tentang pemberian ASI sedini mungkin dan pemberian minum secara bertahap dengan tidak mengharapkan ASI keluar banyak pada saat awal menyusui. Bayi mampu menghisap dan menelan selama 5 menit merupakan pertanda bayi siap beralih dari cara mendapat asupan melalui pipa orogastrik menuju cara menyusu langsung pada ibu.
Kesimpulan
Pola normal pemberian ASI pada bayi cukup bulan yang sehat adalah pemberian seawal mungkin, sesering mungkin dan secara ekslusif.
Bayi yang mempunyai risiko hipoglikemia harus dipantau. Berikan ASI sedini mungkin pada bayi yang memiliki risiko hipoglikemia. Jika perlu perah ASI untuk diberikan dengan cara alternatif lain atau dengan menggunakan pipa orogastrik, untuk mencegah hipoglikemia. ASI diberikan sesering mungkin. Kontak kulit ke kulit sangat membantu bayi dengan risiko hipoglikemia. Skrining glukosa dilakukan mulai umur 30-60 menit dan paling lambat umur 2 jam.
Bayi dengan hipoglikemia asimtomatik, pemberian ASI tetap diberikan sedangkan pada hipoglikemia simtomatik, diberikan glukosa intravena dengan glucose infusion rate (GIR).

Sumber : Buku Indonesia Menyusui
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

ISU TERKINI DALAM PELAYANAN KEBIDANAN


 Isu Terkini Praktik Kebidanan
Pada kenyataannya, banyak diantara kita mengakses temuan ilmiah namun bukan pada domain kebidanan yakni mengupayakan proses reproduksi berjalan dengan fisilogis, tetapi lebih kearah medical. Misalnya penggunaan medikamentosa untuk manajemen nyeri persalinan dengan ILA dan lain sebagainya. Berkiblat pada filosofi diatas, maka manajemen nyeri haruslah memanfaatkan alam dan kompetensi bidan yang ada misalnya dengan touch in labor



Isu Terkini dalam praktik kebidanan lain yang sangat fenomenal adalah lotus birth yang membuat Robin Lim mendapat penghargaan yang membanggakan sejawat di seluruh dunia. Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah praktek meninggalkan tali pusat yang tidak diklem dan lahir secara utuh, daripada ikut menghalangi proses fisiologis normal dalam perubahan Wharton’s jelly yang menghasilkan pengkleman internal alami dalam 10-20 menit pasca persalinan.


               Tali pusat kemudian Kering dan akhirnya lepas dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah lahir.Organisasi Kesehatan Dunia(WHO) menekankan pentingnya penyatuan atau penggabungan pendekatan untuk asuhan ibu dan bayi, dan menyatakan dengan jelas (dalam Panduan Praktis Asuhan Persalinan Normal:, Geneva, Swiss, 1997) “Penundaan Pengkleman (atau tidak sama sekali diklem) adalah cara fisiologis dalam perawatan tali pusat, dan pengkleman tali pusat secara dini merupakan intervensi yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.”Lotus Birth jarang dilakukan di rumah sakit tetapi umumnya dilakukan di klinik dan rumah bersalin, sehingga prosesbonding attachment antara ibu dan bayi dapat dilakukan, hal ini tentunya bermanfaat bagi ibu dan bayi yang baru lahir .

                 Meskipun merupakan suatu fenomena alternatif yang baru, penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya orang Aborigin.Oleh karena itu, keputusan untuk dilakukannya Lotus Birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi karena Lotus Birth merupakan tanggungjawab dari klien yang telah memilih dan membaut keputusan tentang tindakan tersebut.
Praktik Modern dari Lotus Birth menunjukkan bahwa mamalia yang mempunyai 99% bahan genetik hampir sama dengan manusia, yaitu simpanse pun membiarkan plasenta utuh, tidak merusak atau memotongnya. Hal tersebut dikenal dengan fakta primatologistsSampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai adanya kehilangan berat badan bayi dan penyakit kuning karena tindakan Lotus Birth.Referensi mengenai Lotus Birth ini terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, serta Kristen dan Yahudi.
Beberapa alasan ibu untuk memilih Lotus Birth:
1)    Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat
2)    Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.
3)    Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.
4)    Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.
5)    Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.
6)    Alasan rohani atau emosional.
7)    Tradisi budaya yang harus dilakukan.
8)    Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.
9)    Kemungkinan menurunkan risiko infeksi (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka)
10) Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan.sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal).
Beberapa manfaat dilakukannya Lotus Birth diantaranya :
1)    Tali pusat dibiarkan terus berdenyut sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin.
2)    Oksigen vital yang melalui tali pusat dapat sampai ke bayi sebelum bayi benar-benar dapat mulai bernafas sendiri.
3)    Lotus Birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera setelah lahir.
4)    Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment.
5)    Dr Sarah Buckley mengatakan :”bayi akan menerima tambahan 50-100ml darah yang dikenal sebagai transfusi placenta. Darah transfusi ini mengandung zat besi, sel darah merah, keeping darah dan bahan gizi lain, yang akan bermanfaat bagi bayi sampai tahun pertama.”Hilangnya 30 mL darah ke bayi baru lahir adalah setara dengan hilangnya 600 mL darah untuk orang dewasa. Asuhan persalinan umum dengan pemotongan tali pusat sebelum berhenti berdenyut memungkinkan bayi baru lahir kehilangan 60 mL darah, yang setara dengan 1200mL darah orang dewasa.

 2. Evidence Base Praktik Kebidanan
  1. Definisi
Pengertian evidence Base jika ditinjau dari pemenggalan kata (Inggris) maka evidence Basedapat diartikan sebagai berikut:
Evidence : Bukti, fakta
Base   : Dasar
Jadi evidence base adalah: praktik berdasarkan bukti.
 Pengertian Evidence Base menurut sumber lain:
The process of systematically finding, appraising and using research findings as the basis for clinical decisions.
 Evidence base adalah proses sistematis untuk mencari, menilai dan menggunakan hasil penelitian sebagai dasar untuk pengambilan keputusan klinis.
Jadi pengertian Evidence Base-Midwifery dapat disimpulkan sebagai asuhan kebidanan berdasarkan bukti penelitian yang telah teruji menurut metodologi ilmiah yang sistematis.

 2. Manfaat Evidence Base
Manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan Evidence Base antara lain:
1)    Keamanan bagi nakes karena intervensi yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah
2)    Meningkatkan kompetensi (kognitif)
3)    Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagi professional dalam memberikan asuhan yang bermutu
4)    Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien mengharapkan asuhan yang benar, seseuai dengan bukti dan teori serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

 3. Sumber Evidence Base
Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari internet maupun berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau CD. Situs internet yang ada dapat diakses, ada yang harus dibayar namun banyak pula yang public domain. Contoh situs yang dapat diakses secarea gratis (open access) seperti:
2)    Midwifery Today :
3)    International Breastfeeding Journal :http://www.internationalbreastfeedingjournal.com/content
4)    Comfort in Labor : http://Childbirthconnection.org.
5)    Journal of Advance Research in Biological Sciences :
6)    American Journal of Obstetric and Gynecology : http://ajcn.nutrition.org/
7)    American Journal of Clinical Nutrition : http://ajcn.nutrition.org/
8)    American Journal of Public Health : http://ajcn.nutrition.org/
9)    American Journal of Nursing :

 4. Tingkatan Evidence Base
Quality
: Type Of Evidence
1 a (best)
: Systematic review of randomized controlled trials
1 b
: Individual randomized controlled trials with narrow confidence interval
1 C
: All or one case series (when all patients died before a new therapy was introduced but     patient receiving the new therapy now survive)
2a
: Systematic review of cohort studies
2b
: Individual study or randomized controlled trials with <80% follow up
2c
: outcome research: ecological studies
3a
:Systematic review of case –control studies
3b
: Individual case –control study
4
: Case series
5 (worse)
: Expert opinion
 Tidak semua EBM dapat langsung diaplikasikan oleh semua professional kebidanan di dunia. Oleh karena itu bukti ilmiah tersebut harus ditelaah terlebih dahulu, mem[ertimbangkan manfaat dankerugian serta kondisi setempat seperti budaya, kebijakan dan lain sebagainya.











5.  Evidence Base – Midwifery
Dibawah ini akan dipaparkan Evidence Base dalam praktik Kebidanan terkini menurut proses reproduksi: 
1)      EBM-ANC
KEBIASAAN
KETERANGAN
Diet rendah garam untuk mengurangi hipertensi
Hipertensi bukan karena retensi garam
Membatasi hubungan seksual untuk mencegah abortus dan kelahiran prematur
Dianjurkan untuk memakai kondom ada sel semen  yang mengandung prostaglandin tidak kontak langsung dengan organ reproduksi yang dapat memicu kontraksi uterus
Pemberian kalsium untuk mencegah kram pada kaki
Kram pada kaki bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan kalsium
Diet untuk memcegah bayi besar
Bayi besar disebabkan oleh gangguan metabolism pada ibu seperti diabetes melitus
Aktititas dan mobilisasi/latihan (senam hamil dll) saat masa kehamilan menurunkan kejadian PEB, gestasional diabetes dan BBLR dan persalinan SC

  • Berkaitan dengan peredaran darah dan kontraksi otot. (lihat jurnal)

2)      EBM INC & PNC
KEBIASAAN
KETERANGAN
Tampon Vagina
Tampon vagina menyerap darah tetapi tidak menghentikan perdarahan, bahkan perdarahan tetap terjadi dan dapat menyebabkan infeksi

Gurita atau sejenisnya
Selama 2 jam pertama atau selanjutnya penggunaan gurita akan menyebabkan kesulitan pemantauan involusio rahim

Memisahkan ibu dan bayi
Bayi benar-benar siaga selama 2 jam pertama setelah kelahiran. Ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan kontak  kulit ke kulit untuk mempererat bonding attachment serta keberhasilan pemberian ASI

Menduduki sesuatu yang panas
Duduk diatas bara yang panas dapat menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah ibu dan menambah perdarahan serta menyebabkan dehidrasi

Review dari Cochrane menginformasikan bahwa epidural tidak hanya menghilangkan nyeri persalinan, namun seperti tindakan medikal lainnya berdampak pada perpanjangan persalinan, peningkatan penggunaan oksitosin, peningkatan persalinan dengan tindakan seperti forcep atau vakum ekstraksi,  dan tindakan seksio sesarea karena kegagalan putaran paksi dalam, resiko robekan hingga tingkat 3-4 dan lebih banyak membutuhkan tindakan episiotomy pada nulipara. 

Studi lain tentang sentuhan persalinan membuktikan bahwa dengan sentuhan persalinan 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea, pengurangan penggunaan anestesi epidural hingga 85%,  70 % lebih sedikit kelahiran dibantu forceps, 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.
Menyusui secara esklusif dapat meingkatkan gerakan peristaltic ibu sehingga mencegah konstipasi ibu. Ibu yang menyusui secara eksklusif akan lebih sedikit yang konstipasi.
3)      NEWBORN CARE
TEMUAN ILMIAH
Breastfeeding berhubungan dengan perkembangan neurodevelopment pada usia 14 bulan.

Perawatan tali pusan secara terbuka lebih cepat puput dan mengurangi kejadian infeksi TP dari pada perawatan tertutup dengan penggunaan antiseptik

Penyebab kematian terbanyak pada anak adalah pneumonia dan diare, sedangkan penyebab lain adalah penyakit menular atau kekurangan gizi. Salah satu upaya untuk mencegah kematian pada anak adalah melalui pemberian nutrisi yang baik dan ASI eksklusif. 

Penelitian yang dilakukan di Banglades melaporkan bahwa pemberian  ASI ASI secara eksklusif merupakan faktor protektif terhadap infeksi saluran pernapasan akut OR (IK 95%) : 0,69 (0,54-0,88) dan diare OR (IK95%) : 0,69 (0,49-0,98)


DAFTAR PUSTAKA
  1. Yuniati I. Filosofi Kebidanan. Bandung: Program Pascasarjana Program Studi Magister Kebidanan Fakultas Kedokteran  Universitas Padjadjaran Bandung; 2011.
  2. Simkin P. Comfort in Labor. How you can help your self to a normal satisfying childborth 2007. Available from: http://Childbirthconnection.org.
  3. Stillerman E. A Midwife’s Touch. Midwifery Today. 2008(84).
  4.  NICE. Antenatal Care, routine care for the healthy pregnant woman. 2 ed. London: Royal College of Obstetricians and Gynaecologists; 2008.
  5. Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002.
  6. Sandip S, Asha K, Paulin G, Hiren S, Gagandeep S, Amit V. A comparative study of serum uric acid, calcium anf magnesium in preeclampsia and normal pregnancy. Journal of Advance Research in Biological Sciences. 2013;5(1):55-8.
  7. Black S, Yu H, Lee J, Sachchithananthan M, Medcalf RL. Physiologic concentration of magnesium and placental apoptosis: prevention by antioxidants. Obstetrics & Gynecology. 2001;98(2):319-24.
  8. Dignon A, Reddington A. The physical effect of exercise in pregnancy on-pre-eclampsia, gestational diabetes, birthweight and type of delivery. Evidence Based Midwifery. 2013;11(2):60-6.
  9. Rock JP. Epidural Anasthesia in Labor. Journal for Midwifes. 2000.
  10. Field T, Hermandez-Reif M, Taylor S, O.Quintino, Burman I. Labor pain is reduced by massage therapy. 1997.
  11. Worthington-Roberts BS, Williams SR. Nutrition throughout the Life Cycle. 4 ed. Singapore: McGraw-Hill International Ed; 2000.
  12. Guxens M, Mendez MA, Molto-Puigmarti C, Julvez J, Garcia-Esteban R, Forns J, et al. Breastfeeding, long chain polyunsaturated fatty acids in colostrum and infant mental development. Official Journal of The American Academy of Pediatics. 2011;128(4):e880-e9. Epub 4 October 2011.
  13. Moegni EM, Ocviyanti D, editors. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: WHO, UFPA, UNICEF, Kemenkes RI, IBI, POGI; 2012.
  14. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  15. Mihrshahi S, Ichikawa N, Shuaib M, Oddy W, Ampon R, J.Dibley M, et al. Prevalence of exclusive breastfeeding in Bangladesh and its association with diarrhoea and acute respiratory infection: result of the multiple indicator cluster survey 2003. J Nutr Educ Behav. 2007;25(2):195-204.